Kesimpulan
dari cerita Embro & Pipo
Cerita ini
dimulai dari
Pada zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang sahabat yang
tinggal di desa itu. Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yang kuat untuk
menggapai kemajuan. Yang pertama bernama Pipo, yang kedua bernama Embro.
Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan di desa kecil dalam lembah itu.
Keduanya sering berkhayal, suatu saat nanti mereka akan menjadi orang yang
paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun
dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk mewujudkan impian
itu.
Pada suatu hari, kesempatan itu muncul secara tiba-tiba. Kepala desa disitu
memutuskan mempekerjakan mereka untuk membawa air dari sungai yang terletak di
pinggir desa, ke tempat penampungan air yang terletak di tengah desa tersebut.
Intinya, pekerjaan itu dipercayakan kepada Pipo dan Embro.
Singkat cerita, keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju ke
sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore,
tempat penampungan air sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji
keduanya berdasar jumlah ember air yang masing-masing mereka bawa. Begitu
pekerjaan itu di lakukan setiap hari selama beberapa waktu.
“Wow, apa yang kita cita-citakan selama ini akan terkabul!” teriak Embro
gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini”.
Namun, Pipo tidak berhenti sampai disitu saja. Dia tidak yakin begitu saja.
Setiap pulang ke rumah, Pipo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak
tangannya juga lecet-lecet. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena
harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi, Pipo
justru berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai
ke desa tanpa harus terluka. Tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung.
Tanpa melakukan hal itu semur hidupnya!
“Embro, aku punya rencana,” kata Pablo keesokan harinya. “Daripada kita
mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan
beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun pipa saluran
air dari sungai ke desa kita.”
Embro langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. “Saluran pipa air! Ide
dari mana itu!” kata Bruno tegas. “Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yang
sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah, Pipo. Aku bisa membawa seratus
ember sehari. Dengan upah satu sen per ember, berarti penghasilan kita bisa
satu dolar per hari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap
akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan,
aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku bisa membangun
sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan mengangkut
air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap
akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan
hidup dengan sangat layak, dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh
idemu untuk membangun saluran pipa airmu itu.”
Tapi Pipo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar
dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada
sahabatnya. Embro tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pipo.
Akhirnya, Pipo memutuskan untuk bekerja paruh waktu saja. Dia tetap bekerja
mengangkuti ember-ember itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur akhir
minggunya, dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.
Sejak awal melakukan pekerjaannya ini, Pipo telah menyadari akan sangat sulit
membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yang
mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan luka lecet dan
punggung nyeri karena mengangkut air.
Pipo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah
ember yang diangkutnya, maka penghasilannyapun secara otomatis menurun. Dia
juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu satu atau dua tahun sebelum
saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yg dia harapkan.
Namun, Pipo tak pernah kendur dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian
dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah.
Kini, pemandangan kontras mulai tampak diantara kedua sahabat itu. Sementara
Embro asyik berbaring santai di rumahnya yang baru (tempat tidur gantung berupa
jaring) pada sore hari, pada akhir minggu, Pipo tampak terus berlelehan
keringat menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan awal, Pipo memang tak
menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat
berat. Bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan Embro. Selain
harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pipo juga bekerja di malam hari.
Tapi Pipo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu
sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yg dilakukan hari ini. Dari
hari ke hari dia terus menggali. Mili demi mili, senti demi senti!
Pepatah yang selalu diingat Pipo adalah, sedikit demi sedikit, lama-lama
menjadi bukit. Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ke tanah
yg mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centi meter,
sepuluh centi meter, satu meter, duapuluh meter, seratus meter, dan
seterusnya….
Dan, Pipo mulai melihat hasil kerja kerasnya… meski belum maksimal…
“Fokuslah pada imbalan yg akan kau peroleh dari pekerjaanmu”. Kata-kata itu
terus diingat Pipo, dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Fokus,
fokus,fokus…. Imbalannya pasti jauh lebih besar….
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pipo
menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi.
Setiap saat beristirahat, Pipo menyaksikan sahabatnya Embro yang terus saja
mengangkat ember-ember. Bahu Embro juga tampak semakin lama semakin membungkuk.
Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha dia sembunyikan.
Langkahnya juga semakin lamban, akibat kerja keras setiap hari.
Akhirnya, terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pipo pun tiba.
Saluran yang dia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat
air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa.
Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan
penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah
mencari tempat yg lebih dekat dengan sumber air itu.
Setelah saluran pipa itu selesai, Pipo tidak perlu lagi membawa-bawa ember.
Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus
mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik
saat dia makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir
minggu ketika dia menikmati banyak permainan. Semakin banyak air yang mengalir
ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantung Pipo.
Pipo yang tadinya terkenal dengan julukan Pipo si Manusia Pipa, kini menjadi
lebih terkenal dengan sebutan Pipo si Manusia Ajaib. Tetapi, Pipo paham sekali
apa yang sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya
barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yang besar. Memang benar,
nyatanya Pipo mempunyai rencana yang jauh lebih besar daripada apa yang sudah
dihasilkan di desanya.
Tahun demi tahun pun berlalu. Pipo sudah lama pensiun. Usaha saluran pipa-nya
yg mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dollar per tahun ke
rekening-rekening bank dia. Ketika ia jalan-jalan di desa, kadang-kadang ia
melihat beberapa orang pemuda. Mereka tampak sibuk mengangkuti air dengan
ember, dan hal itu mengingatkannya pada masa dimana ia pernah juga menjadi
pengangkut ember yang sama seperti mereka….
Kesimpulan yang didapat dari film ini
Bekerja keras dipadukan dengan bekerja cerdas akan membuat kita menikmati
kehidupan yg menakjubkan
Dan bila
kita sudah mendapatkan hasil yg kita inginkan jgn cepat berpuas diri, pakailah
hasil yg kita dapat dengan bijak utk hari ini dan masa depan.
Nama : Ni Putu Angarini Sasmita
Nim : 16110111051
Kls : MPF /6